Penjelasan Tentang Haid Nifas dan Istihadhah

Penjelasan Tentang Haid Nifas dan Istihadhah - Dikarenakan adanya beberapa hukum yang penting yang berkaitan dengan beberapa macam darah yang keluar dari rahim perempuan maka perlu dibahas disini perberdaan beberapa jenis darah tersebut dan apa yang harus dilakukan dan dilarang oleh seorang perempuan maupun hal yang dilarang oleh seorang suami kepada istrinya.

penjelasan tentenag haid nifas dan istihadhah

Jenis Darah Yang Keluar Dari Rahim Perempuan

1.       Darah Haid
Yaitu darah kotor yang keluar dari rahim perempuan setelah menginjak usia balig dengan tidak ada penyebabnya, tetapi sudah menjadi kebiasaan atau siklus setiap bulan. Sekecil kecilnya perempuan mulai haid setelah berumur 9 tahun. Dan biasanya pada perempuan yang telah berusia 60 tahun keatas haid itu akan berhenti dengan sendirinya.

Lamanya Haid paling sedikit sehari semalam, paling lama 15 hari 15 malam. Kebiasaannya 6 hari 6 malam atau 7 hari 7 malam. Suci antara dua haid paling sedikit 15 hari 15 malam sebanyaknya tidak ada batasannya karena ada sebagian perempuan yang haid satu kali selama hidupnya. Menurut pemeriksaan para ulama terdahulu hal ini dinamakan “istisqa

2.       Darah Nifas.
Yaitu darah yang keluar dari rahim perempuan setelah ia melahirkan anak. Masa nifas sedikitnya sekejap, namun kebanyakan perempuan masa nifas selama 40 hari dan paling lama 60 hari.

3.       Darah Penyakit /Istihadhah
Yaitu darah yang keluar dari rahim karena suatu penyakit, bukan karena haid dan nifas. Perempuan yang mengeluarkan darah penyakit wajib sholat dan ibadah lainnya, sebagaimana diwajibkan bagi orang yang berpenyakit lainya. Untuk itu hendaknya setiap perempuan dapatmeembedakan darah penyakit dengan darah haid/nifas.

Perempuan yang sedang mengeluarkan darah penyakit dalam waktu yang lama hendaknya melakukan hal hal berikut :

1.       Jika dapat membedakan antara dua jenis darah itu dengan sifat-sifatnya, ketika mengeluarkan darah penyakit hendaknya ia jalankan seluruh kewajibannya baik sholat puasa ataupun yang lainnya.

Hadist Nabi Muhammad Saw. : Dari Aisyah, sesungguhnya Fatimah binti Abi Hubaisy telah berdarah penyakit. Rosululloh Saw. bersabda kepadanya, “Sesungguhnya darah haid itu berwarna hitam, dikenal oleh kaum perempuan, maka apabila ada darah semacam itu hendaklah engkau tinggalkan sholat, apabila keadaan darah tidak seperti itu hendaklah engkau berwudhu dan sholat.” (Hadist riwayat Abu Dawud dan Nasai).

2.       Kalau darah haidnya keluar sebelum ia mengeluarkan darah penyakittetap waktunya, umpamanya pselalu diawal bulan atau di akhir bulan hendaklah ia memakai ketentuan itu. Artinya waktu haidnya yang dahulu itu ditetapkan pula sekarang menjadi waktu haidyang biasa. Ia tidak boleh sholat selain pada waktu yang telah ditetapkansebagai waktu suci. Selama waktu yang demikian itu ia wajib sholat, puasa, dan mengerjakan ibadah lainnya.

Hadist Nabi Muhammad Saw. : Dari Aisyah, bahwa Ummu Habibahbinti Jahsy telah bertanya kepada Rosululloh Saw. tettang hukum darah. Beliau berkata kepada Ummu Habibah, “Diamlah engkau pada masa haidmuyang biasa, kemudian hendaklah engkau mandi dan berwudhuuntuk tiap-tiap sholat.” (Hadist riwayat Bukhori dan Muslim)

3.       Kalau ia tidak dapat membedakan darah haid dari darah penyakit dan waktu haidnya  tidak tentu datangnya, atau ia lupa waktunya, hendaknya masa haidnya dijadikan sebagai kebiasaan kebanyakan perempuan dalam hal semacam itu (yaitu 6 hari atau 7 hari). Hendaklah ia meninggalkan sholat dan ibadah lainnya dalam masa 6 atau 7 hari tiap bulannya. Sehingga selain waktu yang ditetapkan sebagai masa haid tersebut, ia wajib sholat dan ibadah lainnya yaitu sekitar 23 atau 24 hari tiap bulannya.

Hadist Nabi Muhammad Saw. : Dari Hammah binti Jahsy, Ia berkata, “ Saya pernah haid yang sangat banyak (lama), maka saya datang kepada Nabi Saw. Untuk menanyakannya. Baliau berkata, “Sesungguhnya itu tipu daya (godaan) setan. Oleh karenanya jadikanlah haidmu 6 atau 7 hari, sesudah itu hendaklah mandi. Apabila telah cukup bilangan hari haidmu ( yaitu 6 atau 7 hari) hendaklah engkau sholat 24 atau 23 hari, lalu puasa dan sholatlah. Sesungguhnya yang demikian itu sah bagimu, dan juga hendaklah engkau lakukan tiap-tiap bulan sebagaimana haid perempuan yang lain.” (Hadist riwayat Bukhori  & Muslim)

Sedangkan amalan yang dilarang ketuka sedang haid nifas dapat dibaca DISINI

Yang Wajib Dihindari oleh Suami ketika Istri Sedang Haid/Nifas

Berikut ini beberapa pendapat yang harus dihindari oleh suami ketika istri sedang dalam keadaan haid atau nifas, Yaitu diantaranya :

1.       Yang wajib dihindari ialah seluruh tubuh istrikarena ayat tersebut diperintahkan menjauhi perempuan dengan tidak ditentukan apanya yang yang harus dijauhi.

2.       Yang wajib dihindari hanya tempat keluardarah itu saja karena ayat teresebut membicarakan tentang darah.
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Perbuatlah sekendakmu kecuali bersetubuh.” ( Hadist riwayat Muslim)

Asal hadist ini adalah berhubungan dengan ornga orang Yahudi di masa Rosululloh Saw. apabila istri mereka sedang haid mereka tidak memberinya makan dan mereka tidak mencampuri. Sahabat sahabat bertanya kepada Rosululloh Saw. apakah perbuatan orang Yahudi tersebut sesuai dengan hukum. Maka Rosululloh menjawab dengan hadist diatas.

3.       Yang wajib dihindari adalah bagian antara pusat dan lutut perempuan karena di khawatirkan tidak sabar.

Hal-hal Yang Dilarang Ketika Sedang Berhadas

Hal-hal Yang Dilarang Ketika Sedang Berhadas - Yang dimaksud dengan Hadast disini adalah suatu keadaan tidak suci, sehingga terhalang /tidak dapat melakukan amalan peribadatan. Ketika sedang berhadas tersebut maka dalam agama Islam dilarang melakukan amalan yang berkaitan dengan peribadatan.

hal hal yang dilarang ketika sedang berhadas

Pembagian Hadas 



1.       Hadas Kecil
Yang termasuk hadast kecil diantaranya buang angin, buang air besar dan buang air kecil, ataupun semua hal yang membatalkan wudhu/tayamum. Cara bersuci dari hadast kecil dapat dilakukan dengan berwudhu atau tayamum setelah membersihkan kotoran atau istinja

2.       Hadas Besar
Yang termasuk hadast besar diantaranya keluar air mani baik ketika mimpi bersetubuh atau keadaan lainya, bersetubuh walaupun tidak keluar air mani (junub), haid dan nifas atau semua hal yang mewajibkan mandi besar. Cara bersuci dari hadast besar dapat dilakukan dengan mandi dan berwudhu.

Hal hal yang Dilarang Ketika Berhadast Kecil

1.       Mengerjakan sholat baik sholat fardhu maupun sholat sunah, sujud tilawah, sujud syukur, dan khotbah Jum’at.
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Alloh tidak menerima sholat salah seorang diantara kamu apabila ia berhadast hingga ia berwudhu.” (Hadist riwayat Bukhori Muslim)

2.       Thawaf baik thawaf fardhu maupun thawaf sunat.
Sabda Nabi Muhammad Saw : “Thawaf itu sholat. Hanya Alloh SWT. halalkan sewaktu thawaf bercakap cakap, maka barang siapa berkat kata hendaknya ia tidak berkata melainkan dengan perkataan yang baik.” (Hadsit riwayat Hakim)

3.       Menyentuh, membawa, atau mengangkat Mushaf (Alqur’an) kecuali ketika dalam keadaan terpaksa untuk menjaganya agar jangan sampai rusak, terbakar atau tenggelam. Dalam keadaan demikian mengambil Qur’an menjadi wajib, untuk menjaga kehormatannya.

Hadist nabi Muhammad Saw. : Dari Abu Bakri din Muhammad, sesungguhnya Nabi besar Saw. telah berkirim surat kepada penduduk Yaman. Dalam surat tersebut menyebutkan kalimat : “Tidak boleh menyentuh Qur’an melainkan dalam keadaan suci.” (Hadist riwayat Duruqutni)

Sebagian Ulama berpendapat tidak ada halangan bagi orang  yang berhadast keciluntuk menyentuh Qur’an, sebab tidak ada dalil yang kuat, sedangkan hadist diatas tidak sah menurut mereka, atau bahkan makna fahir dalam hadist tersebut merka menafsirkan dengan suci dari hadast besar, begitu juga dengan ayat Qur’an yang serupa dengan itu mereka takwilkan.

Hal Hal Yang Dilarang Ketika Berjunub

Yang dimaksud junub disini adalah keadaan setelah bersetubuh, atau mengeluarkan air mani. Adapun amalan yang dilarang ketika dalam keadaan junub yaitu :
1.       Shalat baik sholat sunat dan sholat fardhu
2.       Thawaf baik thawaf fardhu maupun thawaf sunat
3.       Menyentuh, membawa, atau mengangkat Mushaf (Alqur’an)
4.       Membaca Qur’an
Sabda Nabi Muhammad Saw. : Tidak boleh bagi orang junub dan orang haid membaca sesuatu dari Alqur’an.” ( Hadist riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Adapun membaca dzikir dzikir yang tersebut dalam Alqur’an diperbolehkan asal tidak berniat membaca Qur’an

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang junub tidak dilarang (tidak haram) membaca Alqur’an, sebab tidak ada dalilyang kuat, sedangkan hadist tersebut menurut penyelidikan merekatidak sah.

5.       Diam dalam mesjid.
Firman Alloh SWT. : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula mengampiri masjid) sedangkan kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, himgga kamu mandi.” (Alqur’an surat An-Nissa, ayat 43)

Yang dimaksud sholat dalam ayat tersebut ialah tempat sholat yang qorinah ‘abiri sabil, karena yang dapat dilalui hanya tempat sholat itu.

Yang diperbolehkan dalam ayat ini hanyalah melalui tempat sholat. Sedangkan yang dimaksud tempat sholat dalam ayat ini adalah masjid. Jadai duduk dan berdiam dalam masjid tidak diperbolehkan.

Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Saya tidak menghalalkan masjid bagi orang orang yang sedang haid, dan tidak pula bagi orang yang sedang junub”. (Hadist riwayat Abu Dawud)

Hal Hal Yang Dilarang Ketika Haid dan Nifas

Kecual hal hal yang dilarang ketika dalam keadaan junub, bagi perempuan hendaknya juga mengetahui hal hal atau amalan yang tidak boleh dilakukan ketika sedang mengalami haid, dan nifas. Karena nifas dan haid keadaan yang pasti di alami oleh setiap perempuan. Adapun hal hal yang dilarang seorang perempuan ketika sedang haida dan nifas antara lain :

1.       Shalat baik sholat sunat dan sholat fardhu
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Apabila sedang haid, hendaklah engkau tinggalkan sholat.” ( Hadist riwayat Bukhori)

2.       Thawaf baik thawaf fardhu maupun thawaf sunat

3.       Menyentuh, membawa dan membaca Mushaf (Alqur’an)

4.       Diam di masjid. Adapun melewatinya diperbolehkan apabila tidak dikhawatirkan mengotori masjid, tetapi jika dikhawatirkan akan jatuh dan mengotori masjid maka melawati masjid ketika itu haram. Dalilnya adalah beberapa hadist diatas.

5.       Puasa baik puasa wajib dan puasa sunat. Perempuan yang meninggalkan puasa wajib karena haid atau nifas wajib mengqodho puasanya dilain hari sejumlah yang ditinggalkan itu. Adapun sholat yang ditinggalkan karean haid dan nifas tidak wajib di qodho.

Sabda Nabi Muhammad Saw. :
- Nabi bersabda kepada beberapa perempuan, ‘Bukankah perempuan haid itu tidak sholat dan tidak puasa?” jawab perempuan-perempuan yang hadir itu, “Ya Benar.” Sabda Rosululloh Saw. “Itulah kekurangan agama peerempuan.” ( Hadist riwayat Bukhori )
- Dari Mu’azah, Ia berkata, “Saya telah bertanya kepada Aisyah, Bagaimana caranya orang haid mengqodho puasanya, sedang sholatnya tidak?” Jawah Aisyah, “Telah terjadi pada kami haid dimasa Rosululloh Saw. maka kami disuruh mengqodho puasa dan kami tidak disuruh mengqodho sholat.’ ( Hadist Jama’ah Ahli Hadist )

6.       Suami haram menjatuhkan tala’ atau menceraikan istri yang sedang dalam keadaan haid atau nifas.
Ketika ibnu Umar telah menala’ istrinya yang sedang haid, kemudian Umar menanyakan hal itu kepada Rosululloh Saw. Maka Rosululloh menjawab :  “Suruhlah anakmu itu supaya rujuk kepada istrinya, kemudian hendaklah ia tahan dahulu sampai perempuan itu suci, kemudian ia haid lagi, kemudian ia suci lagi, Seseudah itu jika ia (Ibnu Umar)menghendaki teruskanlah perkawinan itu dan itulah yang baik. Jika ia menghendaki boleh ditalaknya sebelum dicampurinya. Demikianlah ‘iddah yang diperintahkan oleh Alloh SWT. yang boleh padanyaperempuan ditalak.” (Hadist riwayat Bukhari Muslim)

7.       Bersetubuh sampai suci dari haid / nifas dan setelah mandi.

Firman Alloh SWT. : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah, “Haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang tobat dan menyuakai orang-orang yang menyucikan diri.” (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 222)

Tata Cara Tayamum Yang Benar

Tata Cara Tayamum Yang Benar - Tayamum adalah mengusapkan debu atau tanah suci ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayamim merupakan pengganti wudhu dan mandi, sebagai ruhshoh atau keringanan untuk orang yang tidak dapat menggunakan air sebagai wudhu atau mandi karena beberapa halangan (uzur).

tata cara tayamum yang benar

Halangan atau uzur untuk diperbolehkannya bertayamum antara lain :
1.       Sakit
Jika wudhu /mandi dengan air maka di khawatirkan akan bertambah sakitnya atau lama sembuhnya, menurut keterangan dari dokter atau tabib yang berpengalaman, maka dapat menggantinya dengan tayamun.

2.       Ketika dalam perjalanan

3.       Karena tidak ada air
Firman Alloh SWT : “Dan apabila kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau kemabli dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlahdengan tanah yang baik (bersih dan suci), sapulah mukamu dan kedua tanganmu dengan tanah itu.” (Surat Al-Maidah ayat 6)

Syarat Tayamum

1.       Sudah masuk waktu sholat
Tayamum disyari’atkan untuk orang yang terpaksa. Sebelum masuk waktu sholat ia belum terpaksa, sebab sholat belum wajib atasnya ketika itu.

2.       Sudah diusahakan mencari air tetapi tidak dapat, sedangkan waktu sholat sudah masuk.
Dalilnya adalah ayat tersebut diatas. Disuruh tayamum jika tidak ada air sesudah dicari dan yakin tidak ada air.

3.       Dengan tanah yang suci dan berdebu.
Menurut Imam Safi’i, tidak sah tayamum selain dengan tanah. Sedangkan menurut Imam yang lain, boleh (sah) tayamum dengan tanah, pasir atau batu. Dalil pendapat yang kedua ini adalah sabda Rosululloh Saw. : “Telah dijadikan bagiku bumi yang baik, menyucikan dan tempat sujud.” (Sepakat Ahli Hadist)
Yang dimaksud Bumi adalah tanah pasir dan batu.

4.       Menghilangkan najis.
Sebelum melakukan tayamum hendaknya membersihkan/menghilangkan terlebih dahulu najis, menurut sebagian ulam, tetapi sebagian lagi berpendapat sah tanpa perlu menghilangkan najis.

Rukun/Fardu Tayamum
1.       Niat.
Seseorang yang akan melakukan tayamum hendaknya berniat karena hendak melakukan sholat atau yang lainnya, bukan semata mata untuk menghilangkan hadast saja. Sebab sifat tayamumtidak dapat menghilangkan hadast, hanya diperbolehkan karena darurat akan mengerjakan amalan sholat atau yang lainnya.
2.       Mengusap muka dengan tanah
3.       Mengusap kedua tangan sampai siku dengan tanah
4.       Menertibkan rukun rukun tersebut.
Artinya mendahulukan muka setelah itu tangannya. Alasannya sebagaimana keterangan menertibkan rukun rukun wudhu. Namun ada juga sebagian ulama berpendapat tidak wajib menertibkan rukun tayamum

Beberapa masalah yang berkaitan dengan tayamum

1.       Orang yang bertayamum karena tidak ada air, tidak wajib mengulang sholatnya apabila telah mendapatkan air. Tetapi bagi orang yang tayamum karena junub, apabila telah mendapatkan air maka wajib mandi jika ingin mengerjakan sholat berikutnya, sebab tayamum tidak menghilangkan hadast melainkan hanya boleh dalam keadaan darurat.

2.       Satu kali tayamum boleh digunakan untuk beberapa kali sholat, baik sholat wajib maupun sholat sunat. Kekuatannya sama dengan wudhu, karena tayamum adalah pengganti wudhu bagi orang yang tidak mendapatkan air.

3.       Boleh tayamum apabila luka atau karena udara sangat dingin, sebab luka itu termasuk dalam pengartian sakit, begitu juga apabila udara dingin dikhawatirkan jika menggunakan air akan sakit.

Sunat sunat Bertayamum

Beberapa amalan yang disunatkan atau dilakukan berpahala tetapi jika tidak dilakukan tidak berdosa ketika bertayamum yaitu antayra lain :

1.       Membaca Bismillah sebelum bertayamum
Dalilnya adalah sama hadist sunat berwudhu karena tayamum sebagai pengganti wudhu.

2.       Menghembus tanah dari kedua telapak tangan supaya tangah yang diatas tangan menjadi tipis.
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “ Sesungguhnya cukuplah bagimu apabila kaupukulkan kedua telapak tanganmu ketanah, kemudian engkau hembuskan kedua tanganmu itu, lalu engkauusapkan kedua tanganmu itu ke muka dan telapak tanganmu.” ( Hadist riwayat Daruqutni)

Wakaffaika diakhir hadist tersebut menjadi alasan bagi orang yang berpendapat bahwa yang wajib disapu dari tangan ketika tayamum hanya kedua tapak tangan saja, tidak sampai siku.

3.       Membaca dua kalimat syahadat ketika selesai bertayamum , sebagaiman sesudah berwudhu.

Hal Hal yang Membatalkan Tayamum

Berikut ini adalah beberapa hal yang membatalkan tayamum, yaitu :

1.       Semua hal yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum.

2.       Telah ditemukan Air.
Mendapatkan air sebelum melakukan sholat, batallah tayamumnya, sehingga orang tersebut wajib berwudhu, bagi orang yang yang bertayamum karena tidak ada air bukan karena sakit.

Hadist Nabi Muhammad Saw. :
- Dari Abu Dzar, Rosululloh Saw bersabda, “Tanah itu cukup bagimu untuk bersuci walau walau engkau tidak mandapatkan air sampai sepuluh tahun, tetapi apabila engkau mendapatkan air, hendaknya engkau sentuhkan air itu kekulitmu.” (Hadist riwayat Tirmidzi)


- Dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Said Alkhudari, Ia berkata, :Ada dua orang laki-laki dalam perjalanan, lalu datang waktusholat, sedangkan air tidak ada lantas keduanya bertayamum dengan debu yang suci lalu sholat. Kemudian keduanya memperoleh air dan waktu sholat masih ada, salah seorang diantara keduanya lantas berwudhu dan mengulangi sholatnya, sedangkan yang lain tidak. Kemudian keduanya datang kepda Rosululloh Saw.  dan diterangkan kejadian itu kepda Rosululloh Saw., beliau lalu bersabda kepada orang yang tidak mengulangi sholatnya, “Engkau telah mengerjakan sunnah dan sholatmu sah. “ Dan kepada orang yang mengulangi sholatnya dengan wudhu beliau bersbda pula, “Bagimu pahala dua kali lipat.” (hadist riwayat Nasai dan Abu Dawud)

Tata Cara Mandi Wajib Yang Syar'i

Tata Cara Mandi Wajib Yang Syar'i - Yang di maksud mandi wajib disini adalah mengalirkan air ke seluruh bagian tubuh disertai dengan niat.
Firman Alloh SWT : “Dan jika kamu berjunub, maka mandilah.” (Al-Maidah, Surat 6)

tata cara mandi wajib yang syar'i

Sebab-sebab Mandi Wajib

Penyebab keharusan mandi wajib terdiri enam perkara, tiga diantaranya biasanya terjadi pada pria dan wanita, dan tiga yang lainnya terjadi hanya pada wanita. Keenam penyebab diharuskannya mandi wajib tersebut yaitu :

1.       Bersetubuh,
Yang di maksud bersetubuh disini baik sampai keluar mani ataupun tidak.
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Apabila dua yang khitan bertemu, maka sesungguhnya telah diwajibkan mandi, meskipun tidak keluar mani.” (Hadist riwayat Muslim)

2.       Keluar Mani
Keluar mani yang disebabkan karena bermimpi ataupun sebab laindengan disengaja atau tidak disengaja, akibat perbuatan sendiri ataupun bukan.

Hadist Nabi Muhammad Saw. :
- Dari Ummi Salamah, sesungguhnya Ummi Salaim telah bertanya kepada RosulullohSaw. “Ya Rosululloh, sesungguhnya Alloh tidak malu memperkatakan yang hak, Apakah perempuan wajib mandi apabila bermimpi? Jawab Beliau. “Ya (wajib atasnya mandi), apabila ia melihat air (artinya keluar mani).” (sepakat Ahli Hadist)
- Dari Khaulah, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Nabi Saw. mengenai perempuan yang bermimpi seperti laki-laki bermimpi. Jawab Nbi Saw, “Ia tidak Wajib Mandi sehingga keluar maninya, sebagaimana laki-laki tidak wajib mandi apabila tidak keluar mani.” (Hadist riwayat Ahmad dan Nasai)

3.       Meninggal Dunia.
Orang beragama islam yang telah meninggal dunia / mati fardhu khifayah atas muslim yang masih hidup untuk memandikannya, kecuali orang yang mati syahid.

Hadist Nabi Muhammad Saw. :
- Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasululloh Saw. telah berkata tentang orang berihramyang terlempar dari punggung untanya hingga ia meninggal. Beliau berkata, “Mandikanlahdia olehmu dengan air dan daun sidr (sabun).” (Hadist riwayat Bukhori dan Muslim)
- Beliau berkata tentang orang yang mati dalam peperangan Uhud, “Jangan kamu mandikan mereka.” (Hadist riwayat Ahmad.)

4.       Setelah Haid.
Apabila seorang wanita telah selesaidari haid, ia wajib mandiagar dapat sholat dan bercampur dengan suaminya. Dengan mandi itu badannya akan menjadi segar dan sehat kembali.

Sabda Nabi Muhammad Saw. : Beliau berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Apabila datang haid itu, hendaknya engkau tinggalkan sholat dan apabila telah selesai haid, hendaknya engkau madi dan sholat.” (Hadist riwayat Bukhori)

5.       Selesai masa nifas.
Yang dimaksud nifas adalah keluarnya darah dari kemaluan wanita setelah melahirkan anak. Darah tersebut merupakan darah yang terkumpul, tidak keluar sewaktu masa mengandung.

6.       Melahirkan.
Setelah wanita selesai melahirkan anak baik sudah waktunya masa melahirkan ataupun belum waktunya melahirkan seperti keguguran maka di wajibkan mandi.

Rukun atau Fardu Mandi

Rukun mandi terdiri dari dua perkara yaitu :
1.       Niat
Orang yang junub hendaknya berniat atau menyengaja menghilangkan hadast junubnya, wanita yang baru selesai haid dan nifas hendaknya berniat menghilangkan hadast kotorannya.

2.       Mengalirkan air keseluruh tubuh.
Mengalirkan air secara menyeluruh ke semua anggota badan tanpa ada yang terlewatkan.


Sunat-sunat Mandi

1.       Membaca Bismillah pada awal permulaan mandi
2.       Berwudhu sebelum mandi
3.       Menggosok-gosok seluruh anggota badan dengan tangan
4.       Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri
5.       Berturut turut.

Mandi Sunah

1.       Mandi pada hari Jum’at.
Disunahkan mandi sebelum melaksanakan sholat Jum’at yang tujuannya agar bersih dan harum tidak mengganggu orang sebelahnya ketika sholat Jum’at.
Hadist Nabi Muhammad Saw. : Dari Umar, ia berkata, “Rosululloh Saw. bersabda, “Apabila salah seorang hendak pergi sholat Jum’at, hendaknya ia mandi.” (Hadist riwayat Muslim)

2.       Mandi pada hari raya Idul fitri dan hari raya Idul kurban.
Hadist Nabi Muhammad Saw. :  Dari Fakih bin Sa’di, sesungguhnya Nabi Saw. mandi pada hari Jum’at, hari Arafah, hari hara Fitri, dan pada hari raya Haji. (Hadist riwayat Abdulloh nin Ahmad)

3.       Orang yang sembuh dari pebyakit gila
Orang yang telah sembuh dari penyakit gila hendaknya ia mandi, karena ada sangkaan atau kemungkinan ia keluar mani ketika sedang gila.

4.       Sebelum Ihram Haji atau umrah
Hadist Nabi Muhammad Saw. : Dari Zaid bin Sabit, sesungguhnya Raosululloh Saw. membuka pakaian beliau ketika hendak ihramdan beliau mandi. (Hadist riwayat Tirmizi)

5.       Mandi setelah memeandikan mayat.
Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Barang siapa memandikan mayat, hendaknya ia mandi dan barang siapa membawa mayat, hendaknya ia berwudhu.” (Hadist riwayat Tirmizi, dan dikatakan hadist hasan)

6.       Mandi orang kafir setelah memeluk agama islam (setelah bersyahadat)
Hadist Nabi Muhammad Saw. :  Dari Qais bin ‘Ashim, ketika ia masuk islam, Rosululloh Saw. menyuruhnya mandi dengan air dan daun bidara. (Hadist riwayat lima Ahli Hadist selain Ibnu Majah)

Perintah ini menjadi sunat hukumnya, bukan wajib karena ada karinah (tanda) yang menunjukkan bukan wajib, yaitu beberapa orang sahabat ketika masuk islam tidak disuruh mandi oleh Nabi Saw.

Itulah pembahasabn tentang mandi wajib yang syar'i bagi umat islam semoga bermanfaat.

Baca juga :
- Panduan Tata Cara Wudhu 
- Sunah Wudhu dan Yang Membatalkan Wudhu

Sunah Wudhu dan Yang Membatalkan Wudhu

Sunah Wudhu dan Yang Membatalkan Wudhu - Pada edisi yang lalu telah kita bahas pengertian dan tata cara wudhu sebelum melakukan sholat lima waktu, selanjutnya akan kita bahas sunah-sunah wudhu dan hal hal yang membatalkan wudhu. Sunah wudhu artinya amalan yang diperbolehkan dan mendapat pahala jika dilakukan ketika sedang wudhu, tetapi jika tidak dilakukan tidak mendapat dosa. 


sunah wudhu dan yang membatalkan wudhu

Baca artikel sebelumnya : Tata Cara Wudhu Yang Benar

Berikut ini beberapa hal yang disunahkan dalam berwudhu yaitu :
1.       Membaca “Bismilah” pada permulaan wudhu
Sabda Nabi Muhammad Saw :
-  “Berwudulah kamu dengan menyebut nama Alloh.” ( Hadist riwayat Abu Dawud)
- “Tiap tiap pekerjaan pentin yang tidak dimulai dengan bismillah, maka pekerjaan itu terputus (kurang berkah).” (Hadist riwayat Abu Dawud)
2.       Membasuh/mencuci telapak tangan hingga pergelangan.
3.       Berkumur kumur
4.       Memasukkan air ke hidung
5.       Menyapu seluruh kepala.
Hadist Nabi Muhammad Saw : “Dari Abdullah bin Zaid, sesungguhnya Rosululloh Saw. telah mengusap kepala dengan kedua tangannya yang di bolak balikannya, dimulai dari sebelah atas kepala kemudian disapukannya ke kuduknya kemudian dikembalikannya ke tempat semula.” (Hadist riwayat Jamaah).
6.       Menyapu kedua telinga luar dan dalam. Keterangan amal Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Tarmizi.
7.       Menyilang-nyilangi jari kedua tangan dan menyilang-nyilangi jari kaki dengan kelingking tangan kiri, yang dimulai dari kelingking jari kaki kanan dan disudahi jari kelingking kaki kiri. Menyilangi jari ini disunahkan apabila air dapat sampai membasahi antara jari. Tatapi apabila air tidak dapat sampai disela sela jari kecuali dengan menyilangi, maka menyilangi jari menjadi wajib bukan sunat.
Sabda Nabi Saw. : “Apabila engkau berwudu, hendaknya engkau silangi jari kedua tanganmu dan jari kedua kakimu.” (Hadist riwayat tirmizi dan dikatakan sebagai hadist hasan)
8.       Mendahulukan anggota kanan daripada anggota badan yang kiri. Rosululloh Saw. suka memulai dengan anggota yang kanan dari pada anggota yang kiridalam beberapa pekerjaan beliau. Nawawi berkata, “Tiap pekerjaan yang mulia dimulai dari kanan, sebaliknya pekerjaan yang hina seperti masuk kakus hendaknya dari kiri.”
Hadist Nabi Muhammad Saw.: Dari Aisyah r.a, Ia berkata, Rosululloh Saw. suka mendahulukan anggota kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci, dan dalam segala halnya.” (Hadist Riwayat Bukhori & Muslim)
9.       Membasuh anggota badan sebanyak tiga kali, membasuh muka tiga kali, membasuh tangan tiga kali, membasuh kaki tiga kali dan sebagainya. Keterangannya adalah amal Rosululloh Saw., kecualiapabila waktu shalat hempirhabis, apabila dikerjakan tiga kali niscaya habislah waktu shalat, tatapi wajib satu kali saja dan haram tiga kali.
10.   Berturut-turut antara anggota. Yang dimaksudkan dengan berturut-turut disini adalah sebelum kering anggota pertama, anggota kedua sudah dibasuh dan sebelum kering anggota kedua anggota ketiga sudah di basuh pula dan seterusnya.
Hadiat Nabi Muhammad Saw.: Dari Umar Bin Khattab, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah berwudu, maka ketinggalan (tidak terbasuh) seluas kuku diatas kakinya. Bagian yang ketinggalan itu kelihatan oleh Nabi, lalu belaiu berkata, “Kembalilah dan perbaiki wudumu.” (hadist riwayat Ahmad dan Muslim)

Perkataan Rosululloh Saw. “perbaiki wudhumu” dan tidak disuruh mengulangiwudu berarti cukuplah dengan membasuh yang ketinggalan saja

Tatapi sebagian ulama lagi berpendapat bahwa melakukan wudhu menurut urutannya itu wajib, beralasan dengan dalili Hadist Nabi Saw : Dari Khalid, dari salah sorang istri Nabi Saw., “Sesungguhnya Rosululloh Saw. melihat seorang laki-laki Shalat, diatas tumitnya ada seluas dirham yang tidak terkena air sewaktu berwudu, maka Rosululloh Saw. menyuruh orang tersebut mengulangi wudunya. (hadist riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
11.   Jangan meminta pertolongan kepada orang lain kecuali jika terpaksa karena halangan, misalnya sakit
12.   Tidak diseka kecuali ada hajat, misalnya sangat dingin.
13.   Menggosok anggota wudhu agar menjadi lebih bersih.
14.   Menjaga supaya agar percikan air wudhu jangan sampai kembali ke badan.
15.   Tidak bercakap cakap sewaktu wudhu, kecuali ada hajat yang mendesak.
16.   Bersiwak (bersugi atau menggosok gigi) dengan berda yang kesat, Selain bagi yang sedang puasa sesudah tergelincir matahari. Lebih afdol bersugi dengan kayu arak atau siwak.
17.   Membaca dua kalimat syahadat dan menghadap kiblat ketika sedang berwudhu
18.   Berdoa setelah wudhu
19.   Membaca dua kalimat syahadat sesudah selesai  wudhu.

Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu

Beberapa hal yang dapat membatalkan wudhu yaitu antara lain :
1.       Keluar sesuatu dari dua pintu (anus dan kemaluan) atau dari salah satunya,
Sesuatu yang keluar tersebut baik berupa zat ataupun angin, yang biasa maupun yang tidak biasa seperti darah, baik yang keluar itu najis maupun yang suci seperti ulat.
Firman Alloh SWT. : “Atau kembali dari tempat buang air.” (Surat An-Nisa ayat 43)

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa orang yang datang dari kakus kalau tidak ada air hendaklah ia tayamum. Berarti buang itu membatalkan wudu.

Hadist Nabi Muhammad Saw. : “Alloh tidak menerima sholat seseorang apabila ia berhadast (keluar sesuatu dari salah satu kedua lubang) sebelum ia berwudu.” (sepakat ahli hadist)
2.       Hilang Akal.
Hilang akal dapat disebabkan karena mabuk atau gila. Demikian pula karena tidurbdengan tempat keluar angin yang tidak tertutup. Sedangkan tidur dengan pintu keluar angin yang tertutup, seperti orang tidur dengan posisi duduk yang tetap, tidaklah batal wudhunya.

Sabda Nabi Muhammad Saw. : “Kedua mata itu tali yang mengikatpintu dubur,apabila kedua mtata tidur, terbukalah ikatan pintu itu, maka barang siapa yang tidur, handaklah iaya berwudhu.” (Hadist riwayat Abu Dawud)

Adapun tidur dengan posisi duduk yang tetap keadaan badannya, tidak membatalkan wudhu karena tiada timbul prasangka bahwa tidaada yang keluar dari duburnya. Adapula hadist riwayat Muslim bahwa sahabat sahabat Nabi Saw. pernah tertidur kemudian sholat tanpa berwudhu lagi.
3.       Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan.
Dengan bersentuhan itu batal wudhu yang menyentuh dan disentuh, dengan syarat bahwa keduanya sudah samp[ai umur baligatau dewasa, dan diantara keduanya bukan mahram. baik mahram turunan pertalian persusuan, ataupun mahram perkawianan.

Firman Alloh Saw. : “Atau kamu telah menyentuh perempuan.” (Surat An-Nissa ayat 43)
Pendapat tersebut menurut mazhab Syafi’i, sedangkan mazhab lain ada pula yang berpendapat bahwa bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan itu tidak membatalkan wudu, tetapi yang membatalkan wudhu itu bersetubuh. Pendapat itu berdasarkan pula pada ayat tersebut, mereka manafsirkan kata kata “la mastum” sebagai bersetubuh.
4.       Menyentuh Kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan.
Menyentuh kemaluan dan dubur sendiri maupun orang lain, baik kemaluan orang dewasa ataupun kemaluan anak anak. Menyentuh ini hanya membatalkan wudu bagi yang menyentuhnya saja.

Sabda Rosululloh Saw. :
- Dari Ummi Habibah, Ia berkata, “ Saya telah mendengar Rosululloh Saw. bersabda, “ Barang siapa menyentuh kemaluannya hendaklah berwudhu,” (riwayat Ibnu Majah dan disahkan oleh Ahmad)
- Dari Basrah binti Safwan, Sesungguhnya Nabi Saw. pernah berkata, “Laki-laki yang menyentuh zakarnya (kemaluannya) janganlah shalat sebelum ia berwudhu.” (Hadist riwayat lima ahli hadist. Kata Bukhari, hadist ini paling sah dalam hal ini)

Dalam hadist tersebut jelaslah bahwa wudhu batal karena menyentuh kemaluan sendiri, apabila menyentuh kemaluan orang lain, sebab keadaannya lebih keji dan lebih melanggar kesopanan.

Ulama yang lain ada yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan itu tidak membatalkan wudhu. merka mengambil alasan dengan hadistTalaq bin Ali.

Sabda Nabi Saw : “Seorang laki laki menyentuh kemaluannya, (lalu ditanyakan) apakah ia wajib berwudhu? Jawab Rosululloh Saw. ”Zakar itu hanya sepotong daging dari tubuhmu.” (Hadist riwayat Abu Dawud, Tirmizi, Nasai, dan lainnnya)

Demikianlah sunah-sunah dalam berwudhu dan juga beberapa hal yang dapat membatalkan wudhu. semoga bermanfaat.

Baca juga artikel :
Panduan Tata Cara Wudhu Yang Benar

Panduan Tata Cara Wudhu Yang Benar

Panduan Tata Cara Wudhu Yang Benar - Wudhu adalah bersuci untuk menghilangkan hadast kecil sebelum melaksanakan sholat. Perintah wajib wudhu timbul bersamaan dengan perintah wajib sholat lima waktu, yaitu satu tahun setengah sebelum tahun Hijriah.

panduan tata cara wudhu yang benar

Firman Alloh SWT : “Hai Orang orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai mata kaki.” (Surat Al-Maidah, ayat 6)

Syarat Syarat Wudhu

1.       Beragama Islam
2.       Mumayiz atau sudah balig
3.       Tidak berhadast besar
4.       Dengan aie yang suci dan menyucikan
5.       Tidak ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit, seperti getah pohon, cat dan lainnya yang melekat diatas kulit anggota wudu.

Rukun (Wajib) Wudhu

1.       Niat.
Hendaknya berniat atau menyengaja mengilangkan hadast kecil atau menyengaja wudu. Yang dimaksud dengan niat yang menurut syara’ yaitu mmenyengaja melakukan pekerjaan atau amal karena tunduk pada hukum Alloh SWT. Niat dapat di ungkapkan dalam hati, namun untuk meyakinkan niat sebaiknya di ucapkan.
2.       Membasuh Muka.
Yang dimaksud dengan wajah disini adalah dari tumbuhnya rambut kepala sebelah atas sampai tulang dagu sebelah bawah, dan dari telinga kiri hingga telinga kanan. Seluruh muka wajib di basuh, tidak boleh ada yang tertinggal, untuk meyakinkan tidak ada yang terbasuh hendaknya dilebihkan sedikit. Bahkan melebihakan ini dihukumi wajib, karena ada kaidah ahli fiqih yang mengatakan bahwa, “Sesuatu yang hanya dengannya dapat disempurnakan yang wajib, maka sesuatu tersebut hukumnya juga wajib.”
3.       Membasuh kedua tangan hingga siku.
Dimulai dari ujung jari tangan kanan hingga siku tangan kanan kemudian ujung jari tangan kiri hingga siku tangan kiri.
4.       Menyapu sebagian kepala.
Sebagian kepala disini setidaknya tidak kurang dari selbar ubun ubun, baik yang dispu itu kulit kepala ataupun rambutnya.
5.       Membasuh dua telapak kaki hingga kedua mata kaki.
Dimulai dari ujung jari kaki kanan hingga kedua mata kaki kanan (mata kaki juga dibasuh) kemudian ujung jari kaki kiri hingga kedua mata kaki kiri.
6.       Tertib
Artinya tertib adalah dilakukan secara berurutan dan tidak ada yang tertinggal, kecuali membaca niat dan membasuh muka dilakukan secara bersama sama.
Sabda Nabi Muhammad Saw : “Mulailah pekerjaanmu dengan apa yang dimulai oleh Alloh SWT.” (Hadist riwayat Nasai)

Menyapu Sepatu

Diperbolehkan menyapu sepatu bagi pengganti membasuh kaki bagi orang yang terus menerus memakai sepatu. Cara menyapu atau mengusap sepatu yaitu menyapu dengan air bagian atasnya saja.
Adapun keketentuannya adalah bagi orang yang sedang bepergian atau musafir selama tiga hari tiga malam. Sedang bagi yang tidak bepergian atau penduduk negri setempat yaitu selama sehari semalam. Masa tersebut terhitung dari ketika berhadast (batal wudhu) sesudah memakai sepatu.

Hadist Nabi Muhammad Saw. :
- Dari Mugirah bin Syu’bah, ia berkata, “Saya lihat Rasululloh Saw. menyapu bagian luar kedua sepatu beliau.” ( Hadist riwayat Ahmad dan Tarmizi dan dikatakan sebagai hadist hasan)
- Dari Abu Bakrah, bahwasannya Rosululloh Saw. telah memberi kelonggaran bagi ornga musyafir tiga hari tiga malam dan bagi ornga mukim (penduduk setempat)sehari semalam apabila ia suci, kemudian dipakai kedua sepatunya. Ia boleh mengusap kedua sepatunya dengan air. (Hadist riwayat Ibnu Khuzaimehdan Daru Qutni)

Kaidah lainnya yaitu tidak boleh memnapu salah satu kaki dan membasuh kaki yang lainnya, sebab ada kaidah lain yang mengatakan, “Apabila agama menyuruh memilih antara dua perkara, tidak boleh mengadakan cara yang ketiga.”

Syarat Syarat Menyapu Sepatu

1.       Kedua sepatu itu hendaknya dipakai sesudah suci secara sempurna. Dalilnya adalah hadist Nabi Saw. tersebut diatas.
2.       Kedua sepatu tersebut hendaknya sepatu panjang, yang menutupi bagian yang harus terkena air wudu yaitu jari kaki, tumit hingga kedua mata kaki.
3.       Kedua sepatu itu kuat, dapat digunakan untuk berjalan jauh dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang suci

Yang Membatalkan Menyapu Sepatu

1.       Apabila keduanya atau salah satunya telah terbuka, baik dibuka dengan sengaja ataupun tidak disengaja
2.       Habis masa yang ditentukan (sehari semalam bagi orang yang tetap dan tiga hari tiga malam bagi musyafir)

3.       Apabila ia berhadast besar yang mewajibkan untuk mandi.

Demikian panduan tata cara wudhu yang benar semoga bermanfaat untuk memperbaiki amalan kita
sehari sehari yang berkaitan dengan sholat lima waktu.